Wednesday, February 25, 2015

BLIND SPOTS




Banyak dari orang-orang yang dalam menjalankan bisnis mereka bukannya berusaha melakukan perbaikan dan pengembangan produk dan/atau layanan mereka tetapi justeru lebih sering mencoba untuk mencari-cari berbagai kekurangan dan kelemahan dari para pesaing mereka lalu menawarkan produk dan/atau layanan yang dapat memberikan pemenuhan dari kekurangan dan kelemahan para pesaing tersebut.

Tentu saja cara yang umum dilakukan oleh banyak orang dalam bisnis tersebut boleh saja anda juga ikut lakukan namun karena semua orang lain juga melakukan cara yang serupa, maka ada kemungkinan bahwa dari berbagai kekurangan dan kelemahan perusahaan anda yang terlihat oleh para pesaing justeru tidak anda sadari karena kekurangan dan kelemahan tersebut berada di area-area yang merupakan blind spots bagi anda.

Saya teringat pada sebuah cerita tentang blind spots yang beberapa tahun lalu pernah saya dengar langsung dari bapak Achmad Suriawinata atau yang lebih sering dipanggil pak Suria. Dalam suatu kesempatan makan siang di salah satu perusahaan miliknya, beliau menceritakan kisah tentang sebuah pohon yang besar dan seekor burung kecil yang mendatanginya dan meminta tempat untuk membuat sarang di salah satu cabangnya. Burung kecil yang ceria tersebut setiap ada kesempatan selalu mengajak bicara si pohon. Setelah satu bulan berlalu si pohon merasa sangat terganggu dengan celotehan si burung kecil tersebut sehingga memutuskan untuk mengusirnya. Burung kecil tersebut tidak memiliki pilihan lain dan terpaksa pergi meninggalkan sarangnya di pohon besar tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya, si burung kecil kembali lagi karena dia berpikir barangkali saja si pohon besar yang sudah mengusirnya tersebut sudah berubah pikiran. Setelah terbang berputar beberapa kali mencari si pohon besar, si burung kecil ternyata tidak menemukan pohon besar tersebut. Burung kecil tersebut memang tidak akan pernah menemukannya karena pohon besar tersebut telah tumbang karena digerogoti oleh serangga-serangga yang walaupun sangat kecil dibandingkan ukuran si pohon namun dari waktu ke waktu secara sedikit demi sedikit menggerogoti seluruh bagian pohon besar tersebut. Burung kecil tersebut yang makanannya memang adalah berbagai jenis serangga sebenarnya dapat menghindarkan situasi fatal dialami oleh pohon besar tersebut. 

Moral dari kisah yang diceritakan oleh pak Suria tersebut adalah bahwa seringkali kita bersikap seperti pohon besar tersebut yang tidak menyadari adanya bahaya yang tidak terlihat atau terlalu menganggap remeh bahaya yang bisa diakibatkan oleh serangga-serangga kecil yang dari waktu ke waktu menggerogotinya hingga habis. Seringkali juga kita bersikap seperti pohon besar yang menolak si burung kecil untuk menetap padahal dengan keberadaan burung kecil tersebut yang justeru dapat menghilangkan ancaman dari serangga-serangga tersebut karena mereka merupakan makanannya. Akibatnya bisa sangat fatal seperti pohon besar dalam kisah tersebut.

Setiap bisnis dapat dipastikan memiliki area-area blind spots berupa kelemahan atau kekurangan yang disebabkan oleh berbagai faktor internal seperti kemampuan teknis, permodalan, kepemimpinan dan manajerial, maupun faktor eksternal seperti perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup masyarakat dan faktor-faktor lainnya. Kelemahan dan kekurangan tersebut dapat secara perlahan tanpa terasa memperlemah dan bahkan hingga menghancurkan bisnis tetapi dapat juga secara sangat cepat membuat perusahaan tidak berdaya menghadapi para pesaing yang memanfaatkan kelemahan dan kekurangan perusahaan anda

Lakukan observasi dari waktu ke waktu dengan melibatkan semua orang dalam perusahaan anda dan dengan mendapatkan informasi dari pasar serta umpan balik atau bahkan keluhan atas produk dan/atau pelayanan perusahaan anda sehingga akan dapat dengan cepat diketahui kelemahan dan kekurangan yang ada pada area-area blind spots perusahaan anda.


Catatan tentang bapak Achmad Suriawinata
Saya sangat beruntung telah mendapat banyak kesempatan untuk mendengarkan secara langsung berbagai pengalaman beliau dalam lingkup bisnis maupun kehidupan. Tahun 1996 adalah ketika pertama kali saya mengenal bapak Achmad Suriawinata atau yang lebih sering dipanggil pak Suria, namun baru setelah lebih dari dua dekade kemudian atau tepatnya sejak tahun 2010 saya baru berkesempatan mengenal beliau dengan lebih dekat. Semasa hidupnya beliau selain memiliki kegemaran menulis kaligrafi dalam aksara Cina, beliau juga telah menulis lebih dari 30 buah judul buku yang berisi pandangan-pandangan beliau tentang berbagai hal yang sangat menarik untuk dibaca. Cerita tentang sebuah pohon besar dan seekor burung kecil serta seranga-serangga dengan gaya perumpamaan yang beliau pergunakan untuk menjelaskan tentang blind spots adalah hanya salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan tulisan yang telah beliau buat semasa hidup beliau. Pak Suria telah kembali kepada Sang Pencipta pada 14 Januari 2015 dalam usia 84 tahun.

No comments: