Friday, January 30, 2015

NYEPI






Kita tentu boleh saja mempunyai harapan dan keinginan akan suatu sikap yang perlu dimiliki dan/atau tindakan2 yang perlu dilakukan oleh pemimpin kita.

Namun kita perlu menyadari bahwa dalam posisi sebagai pemimpin, akan tersedia sudut pandang yang berbeda, ada dalam situasi serta tekanan kesulitan yang sangat berbeda, perlu banyak pertimbangan yang mesti memasukkan begitu banyak faktor dan juga mendengarkan pertimbangan2 dari banyak orang agar dampak2 negatif bilamana terjadi bisa seminimal mungkin atau agar dampak2 positif yang diharapkan bisa maksimal dari setiap keputusan yang dibuat oleh seorang pemimpin.

Apa yang kita dengarkan lewat radio dan/atau televisi, yang kita baca di media2 sosial, baik dalam bentuk tercetak maupun elektronik, adalah suara2 dan/atau komentar2 yang lebih banyak hanya berupa sindiran atau cemoohan, kritikan yang jauh dari sikap sportif, guyonan2 yang tidak perlu,  bahkan sikap, perilaku, saran2 serta ucapan2 yang menampakkan sosok yang sok tau, sok pintar, dan orang2 tersebut merasa diri memiliki pendapat paling benar dan paling tepat, yang menurut orang2 semacam ini adalah sikap dan/atau tindakan yang mesti dilakukan pemimpin kita. Orang2 tersebut merasa bahwa diri mereka paling mengetahui banyak hal dan merasa berhak untuk bicara apa saja seturut pemikiran mereka serta sama sekali tidak memiliki empati akan kesulitan2 yang dihadapi pemimpin mereka. 

Mungkin saja orang2 tersebut berkata-kata karena mengandaikan diri berada pada posisi sebagai pemimpin yang mereka persalahkan. Andaikan saja bisa sesederhana seperti itu, tentu seorang pemimpin akan dengan mudah menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapinya. Namun perlu kita semua menyadari bahwa tidaklah bisa dengan hanya mengandaikan diri atau berteori atau bahkan dengan menggunakan pengalaman diri sendiri sehebat apapun, kecuali bagi mereka yang memang pernah menjabat dalam posisi yang sama namun tetap saja perlu diingat bahwa asumsi ceteris paribus tidak bisa begitu saja digunakan, sehingga merasa berhak mengatakan kepada pemimpin kita harus begini atau harus begitu untuk mengatasi persoalan2 yang dihadapinya. Sadarilah bahwa ketika kita benar2 ada dalam posisi sebagai pemimpin, segala sesuatunya akan nampak dan berdampak berbeda.

Apakah kita juga sama atau akan jadi sama seperti orang2 sok tau, sok pintar dan merasa paling benar sehingga begitu mudahnya  memberikan komentar, pendapat, opini, cemoohan, guyonan, kritik yang hanya untuk memperkeruh keadaan, dan banyak hal negatif lainnya sehingga tepat seperti dua pepatah yaitu “tong kosong nyaring bunyinya” dan “seperti katak di bawah tempurung”?

Di tahun 2015 ini, Hari Nyepi baru akan diperingati pada tanggal 9 Maret, namun kita mungkin dapat dan bahkan perlu untuk mencoba mengambil sikap Nyepi pada saat ini dengan tidak menjadi orang2 yang terus menerus bicara akan tetapi menciptakan suasana hening selama paling tidak sehari yang dapat memberikan kesempatan kepada pemimpin kita untuk mempertimbangkan semua hal dengan lebih tenang sehingga dapat membuat keputusan terbaik bagi kita semua.

No comments: